Text
Hanya Rindu, Bukan Dendam
Tak bisa dan tak akan berhenti, bahkan jika belum pernah bertemu, bahkan jika aku belum tahu namamu yang sebenarnya, bahkan jika kita dijodohkan oleh nasib buruk. Jadi, jangan bilang kalau cintaku tak seluas tujuh langit yang sengaja kaubuat untuk menghalangiku, darimu.\\r\\n\\r\\nGambarmu\\r\\nDi gambar itu senyummu rengkah\\r\\ndan putih tua. Musim gugur yang\\r\\nmurung menyelinap tiba-tiba.\\r\\nSebuah kamar berjendela kayu,\\r\\nlangit-langit cokelat susu.\\r\\nSeprai putih masih bergumul dan\\r\\nmenyekap mimpi, sementara bunyi\\r\\nmesin tik tak henti menipu masa lalu.\\r\\nDi setiap halaman yang selesai, kuhadiahi\\r\\ndirimu sebuah pelukan; menyelimuti\\r\\nketakutan-ketakutan yang sama sekali\\r\\ntak perlu, seperti di cerita-ceritaku yang\\r\\nbelum juga selesai.\\r\\nLangit kembali jatuh ke ujung sepatu.\\r\\nMasih ingatkah kau? Kita menyianyiakan malam dengan cinta.\\r\\nHingga pada akhirnya, mesin tik itu\\r\\ntak lagi bersuara, dan senyummu di\\r\\ngambar itu tak lagi renta.\\r\\nIa memudar perlahan.\\r\\nDan hilang.\\r\\nAku sengaja tak pernah\\r\\nmembangunkanmu.
Tidak tersedia versi lain